Selasa

'The Thieves' Menjadi Film Terlaris Kelima dalam Sejarah Perfilman Korea Selatan

'The Thieves' Menjadi Film Terlaris Kelima dalam Sejarah Perfilman Korea Selatan

Mulai tayang di Indonesia pada 6 September 2012

image
Poster Film The Thieves (Foto: Showbox)
Seoul - Film The Thieves akhirnya berhasil meraih angka lebih dari 11 juta penonton, dan berhasil menjadi film kelima terlaris dalam sejarah perfilman di Korea Selatan.

Dilansir dari 10Asiae, Setelah berhasil mengumpulkan lebih dari 835 ribu penonton pada akhir pekan lalu, film yang disutradarai oleh Choi Dong hoon ini akhirnya berhasil menjual 11.127.693 tiket dan menjadi film yang berada diurutan kelima film terlaris sepanjang masa dalam sejarah perfilman Korea Selatan. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Korea Box Office Information System (KOBIS) pada Senin lalu melalui situs resminya.

KOBIS juga menambahkan dengan hasil ini, The Thieves berhasil mencuri posisi film terlaris kelima dalam sejarah perfilman negeri ginseng tersebut dari film yang bertajuk Silmido yang rilis pada 2003 lalu.

Selain The Thieves, film Korea Selatan lainnya yang berhasil meraih lebih dari 11 juta penonton berdasarkan penjualan tiket adalah, The Host (2006), The King And The Clown (2005), Taegukgi (2003), dan Haeundae (2009).

The Thieves pertama kali tayang pada 25 Juli lalu, dan saat ini sudah dinobatkan sebagai film terlaris di Korea Selatan sepanjang 2012, selain itu berhasil dinobatkan sebagaikan film dengan penjualan tiket tercepat dalam sejarah perfilman Korea Selatan.


The Thieves akan mulai ditayangkan di beberapa negara di Asia mulai awal September mendatang. Setelah sebelumnya, hak penayangan di beberapa negara Asia berhasil dijual beberapa waktu sebelum tayang perdana di Korea Selatan juli lalu.

Indonesia dan Hongkong akan menayangkan perdana film tersebut pada 6 september mendatang, diikuti Singapura pada 13 September 2012. Sementara, Malaysia akan mulai menayangkan film tersebut pada Oktober dan Thailand akan mulai menayangkan film tersebut pada November mendatang.

Selain itu, The Thieves akan mulai tayang perdana di Amerika Utara setelah diundang untuk tampil dalam Toronto International Film Festival (TIFF) mendatang dan akan berada dalam bagian kompetitif yaitu Contemporary World Cinema. Rencananya, Festival film tersebut akan berlangsung di Toronto, Kanada mulai 6 - 16 September mendatang.

(RS/RS)

CR. http://rollingstone.co.id

Senin

Perayaan 100 tahun Sebelum Doraemon dilahirkan


Hong Kong merayakan 100 tahun sebelum Doraemon dilahirkan.

Doraemon adalah salah satu karakter manga Jepang yang paling populer di Asia. Dia pertama kali muncul pada tahun 1969 dan robot kucing dari masa depan itu telah membintangi banyak serial TV dan film sejak itu.

Berasal dari masa depan, tanggal lahir Doraemon adalah 3 September 2112, yang berarti 2012 menandai dimulainya hitungan mundur tahun 100 sampai ulang tahunnya.

Untuk merayakan sebelum ulang tahun, musim panas ini dari 14 Agustus-16 September, Harbour City di Hong Kong akan menjadi tuan rumah 100 Tahun Sebelum Kelahiran Doraemon.

Untuk menandai ulang tahun Doraemon (meskipun 100 tahun awal), Harbour City akan menampilkan 100 tokoh unik Doraemon unik bersama dengan 100 gadget rahasia, semua ditampilkan di luar Harbour City.

Upacara Pembukaan untuk 100 Tahun Sebelum Kelahiran Doraemon akan diselenggarakan pada tanggal 14 Agustus pada 13:00, di halaman depan Harbour City.




[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

Sabtu

Film 'The Thieves' Raih 4,3 Juta Penonton dalam 8 Hari Penayangan

Film 'The Thieves' Raih 4,3 Juta Penonton dalam 8 Hari Penayangan

Menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak hingga saat ini.

image
Poster film The Thieves (Foto: Showbox Ent)
Seoul - Setelah berhasil meraih posisi kedua sebagai film dengan raihan penonton terbanyak dalam sejarah perfilman Korea di penayangan hari pertama, kali ini, film The Thieves kembali membuat rekor baru.

Dilansir dari 10Asiae, menurut Korea Box Office Information System (KOBIS) mengatakan bahwa The Thieves kembali membuat rekor dengan berhasil menjual tiket sebanyak 4.365.078 hanya dalam waktu 8 hari setelah dirilis pertama kali pada 25 Juli lalu.

Menembus penjualan sebanyak 4 juta tiket dalam kurun waktu 8 hari, The Thieves menjadi film dengan kategori komedi aksi yang terbesar di bioskop Korea Selatan hingga saat ini. Dan raihan ini menjadikan The Thieves sebagai film dengan penjualan tiket terbanyak dan tercepat dalam sejarah perfilman Korea Selatan.

Prestasi menjual lebih dari 4,3 juta tiket dalam waktu 8 hari ini disejajarkan dengan film The Host pada 2006 dan film Hollywood Transformers 3 : Dark Of The Moon pada 2011 yang keduanya berhasil menjual lebih dari 4 juta tiket dalam waktu 8 hari pula.

Hebatnya lagi, film ini ternyata meraih jumlah penonton terbanyak di minggu kedua setelah dirilis. Pakar perfilman Korea Selatan memprediksi The Thieves akan kembali membuat rekor baru pada saat memasuki waktu liburan panjang musim panas di awal Agustus ini.

Film yang disutradarai Choi Dong-Hoon ini dibintangi oleh aktor dan aktris papan atas Korea Selatan seperti Jun Ji Hyun dan Kim Soo Hyun yang menceritakan tentang sekelompok pencuri dari latar belakang berbeda, berkumpul dan bekerjasama untuk mencuri sebuah berlian yang disembunyikan di dalam sebuah kasino di Macao.

Film The Thieves dalam waktu dekat akan ditayangkan di beberapa negara di Asia setelah berhasil meraih minat banyak distributor pada saat ditayangkan cuplikannya pada sebuah festival film internasional di Eropa beberapa waktu lalu.

(RS/RS)

CR. http://rollingstone.co.id 

Jumat

Sejarah Matematika dan Asal Usul Angka Nol

Dlm sehari-hari, sesungguhnya qt tdk membutuhkan angka nol, benar2 tidak butuh. Ketika anda ditanya, ‘Punya brp jerukkah anda ?’, mka anda akn cenderung utk mngatakn ‘Saya tdk pny jeruk’ ketimbang mengatakan ‘Saya mempunyai nol jeruk’. Ketika kita mempunyai seorang adik n ditanya ‘Brpa thun umur adikmu itu ?’. Mka qt lebih memilih utk menjawab ‘Umurnya baru 1 bulan’ daripada harus menjawab dengan ’Umurnya baru 0 tahun’. Inilah masalahnya, krn dlm prakteknya qt sama sekali tdk memerlukan angka nol.
Mka dlm waktu yg sngt lama pd sjarah prjalann manusia, angka nol tdk muncul. Dan trnyata angka nol sendiri relative blm terlalu lama ditemukan, krn memang ‘tidak penting’.
Petunjuk mengenai awal manusia mengenal hitungan ditemukan oleh arkeolog Karl Absolom thn 1930 dlm sebuah potongan tulang serigala – ternyata mereka lebih bernyali, karena qt lebih memilih utk menggunakan media kertas dibading tulang serigala – yang diperkirakan berumur 30.000 tahun.

Terserah anda akn membayangkan seperti apa 30.000 tahun yg lalu itu n bgmn qt hidup jk telah dilahirkan pd masa itu.
Pada potongan tulang itu ditemukan goresan2 kecil yg tersusun dlm kelompok2 yg terdiri ats lima. iiiii iiiii iiiii. Entah apa yg telah dihitung oleh Manusia gua Gog. Apkh ia sedang menghitung brp lalat yg telah ia lahap, ataukah sudah brp lama ia tdk mandi, entahlah. Dan pd zaman ini angka nol sama sekali blm muncul, krn mmangnya untuk ap ?

Jauh sebelum zamannya si Gog, diperkirakan manusia baru mengenal angka satu n banyak atau satu, dua dan banyak. Pd saat ini ternyata masih ada yang menggunakan sistem ini, yaitu suku Indian Sirriona di Bolivia dan orang-orang Yanoama di Brasil. Ternyata seiring berjalannya waktu, mereka mulai merangkai angka yang sudah ada. Suku Bacairi dan Baroro memiliki system hitung ‘satu’, ‘dua’, ‘dua dan satu’, ‘dua dan dua’, ‘dua dan dua dan satu’, dst. Mereka memiliki system angka berbasis dua dan kita sekarang menyebutnya dengan system biner – saat ini kita sering mempelajarinya jika kita mempelajari system hitungan yang digunakan komputer. Saat ini pun kita menuliskan sebelas sebagai sepuluh dan satu, dst.

Sekarang kita menyebut system basis lima yang digunakan si Gog adalah system quiner. Mengapa Gog memilih lima sebagai basisnya, dan bukannya basis empat atau enam ? Toh, basis berapapun yang dipilih, maka system penghitungan akan tetap bisa dilakukan. Tampaknya ini dipilih karena manusia sajak dari dulu sampai sekarang memiliki lima jari di setiap tangan. Penyebutan Baroro untuk ‘dua dan dua dan satu’ adalah ‘seluruh jari tangan saya’ dan masyarakat Yunani kuno menyebut proses penghitungan dengan fiving – melimakan.Tapi sampai saat itu angka nol tetap belum muncul, karena kita tidak perlu mencatat dan mengatakan ‘nol serigala’ dan ‘nol adik kita’ bukan ?

Sejak masa Gog manusia terus mengalami kemajuan. Kembali kita menelusuri mesin waktu, lima ribu tahun yang lalu, orang-orang Mesir mulai membuat tanda untuk menunjukkan ‘satu’, tanda lain untuk menunjukkan ‘lima’, dsb. Sebelum masa piramida, orang-orang Mesir kuno telah menggunakan gambar untuk system bilangan desimal – basis sepuluh, jari dua tangan saya – mereka. Bangsa Mesir akan menggambar enam simbol untuk mencatat angaka seratus dua puluh tiga ketimbang menggambar 123 garis. Bangsa Mesir dikenal sangat menguasai matematika. Meraka pakar perbintangan dan pencatat waktu yang handal dan bahkan sudah menciptakan kalender. Penemuan sistem penanggalan matahari merupakan terobosan besar dan ditambah dengan penemuan seni geometri . Meskipun mereka sudah mencapai matematika tingkat tinggi, namun angka nol ternyata belum muncul juga di Mesir. Ini dikarenakan mereka menggunakan matematika untuk praktis dan tidak menggunakannya untuk sesuatu yang tidak berhubungan dengan kenyataan.

Kemudian kita berpindah ke Yunani. Sebelum tahun 500 SM, mereka telah memahami matematika dengan lebih baik dibandingkan Mesir. Mereka juga menggunakan basis 10. Orang Yunani , sebagai contoh, menuliskan angka 87 dengan 2 simbol, dibandingkan dengan Mesir yang harus menuliskannya dengan 15 simbol, yang justru mengalami kemunduran pada angka Romawi yang memerlukan 7 simbol – LXXXVII. Jika bangsa Mesir menganggap matematika hanyalah alat untuk mengetahui pergantian hari – dengan sistem kalender – dan mengatur pembagian lahan – dengan geometri – , maka orang Yunani memandang angka-angka dan filsafat dengan sangat serius. Zeno yang melahirkan paradoks ketertakhinggaan dan Pytagoras yang sangat kita kenal dengan teorema segitiga siku-sikunya – yang belakangan diketahui bahwa rumus ini sebenarnya sudah diketahui sejak 1000 tahun sebelumnya, dilahirkan di sini. Kita juga mengenal Aristoteles dan Ptolomeus. Mereka dikenal dengan filsafatnya mereka juga tidak menemukan angka nol. Angka nol tetap belum ditemukan sampai saat ini.
Kembali ke dunia timur, Babilonia – Iraq sekarang – ternyata memiliki sistem hitung kuno yang jauh lebih maju. Mereka menggunakan sistem berbasis 60, seksagesimal , sehingga mereka memiliki 59 tanda. Yang membedakan sistem ini dengan Mesir dan Yunani adalah, bahwa sebuah tanda dapat berarti 1, 60, 3600 atau bilangan yg lebih besar lainnya.

Merekalah yang mengenalkan alat bantu hitung abax – soroban di Jepang, suan-pan di China, s’choty di Rusia, coulbadi di Turki, dll yang di sini kita sebut dengan sempoa). Sistem hitung mereka seperti sistem kita saat ini dimana 222 menunjukkan nilai ‘dua’, ‘dua puluh’ dan ‘dua ratus’. Begitu juga simbol i menunjukkan ‘satu’ atau ‘enam puluh’ dalam dua posisi yang berbeda. Orang Babilonia tidak memiliki metode untuk menunjukkan kolom-kolom yang tepat bagi simbol-simbol tertulis, sementara dengan abakus hal ini lebih mudah ditunjukkan angka mana yang dimaksud. Sebuah batu yang terletak di kolom kedua dapat dibedakan dengan mudah dari batu yang terdapat di kolom ketiga dan seterusnya. Dengan demikian i dapat berarti 1, 60 atau 3600 atau nilai yang lebih besar. Sehingga ii dapat lebih kacau lagi, karena bsa berarti 61, 3601, dsb. Maka diperlukan penanda dan mereka menggunakan ii sebagai tempat kosong, sebuah kolom kosong pada abakus. Sehingga sekarang ii berarti 61 dan iiii berarti 3601. Walaupun mereka telah menemukan penanda kolom kosong dengan ii, namun sesungguhnya angka nol tetap saja belum muncul pada kebudayaan ini.ii tetap tidak mempunyai nilai numerik tersendiri.

Maka ketika kita meninggalkan kebudayaan-kebudayaan di atas, tetap saja belum kita temukan angka nol dan dari titik ini kita akan mengalami percabangan untuk menentukan siapa sebenarnya penemu sang angka nol. Asal mula matematika di India masih samar. Sebuah teks yang ditulis pada tahun 476 M menunjukkan pengaruh matematika Yunani, Mesir dan Babilonia yang dibawa Alexander saat penaklukannya. Suatu ketika pakar Matematika India mengubah sistem hitung mereka dari sistem Yunani ke Babilonia tetapi berbasis sepuluh. Namun dari referensi pertama bilangan Hindu yang berasal dari seorang Uskup Suriah pada tahun 662 menyebutkan bahwa mereka menggunakan 9 tanda dan bukannya sepuluh.

Dengan jatuhnya kekaisaran Romawi pada abad VII, Barat pun mengalami kemunduran dan Timur mengalami kebangkitan. Selama bintang Barat tenggelam di balik cakrawala, bintang lainnya terbit, Islam.
Setelah Rasulullah Muhammad saw wafat maka dimulailah masa Khulafur Rasyidin yang dipimpim oleh Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq ra, Amirul Mukminin Umar Bin Khattab Al Faruq ra, Amirul Mukminin Usman Bin Affan Dzunnurrain ra dan Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib kw. Dan saat ini Islam telah tersebar mencapai Mesir, Suriah, Mesopotamia dan Persia dan juga Yerusalem. Pada tahun 700 M, Islam telah mencapai sungai Hindus di Timur dan Algiers di Barat. Tahun 711 M, Islam telah menguasai Spanyol sampai ke wilayah Prancis dan di tahun 751 M telah mengalahkan Cina. Dan di Spanyol yang lebih dikenal dengan Andalusia, mengalami puncak kejayaanya pada abad VIII.

Pada abad IX, Khalifah Al Ma’mun mendirikan perpustakaan megah, Bayt Al Hikmah – Rumah Kebijaksanaan. Dan salah satu ilmuwan terkemukannya adalah Muhammad Ibnu Musa Al Khawarizmi. Tulisan pentingnya antara lain Al-Jabr Wa Al-Muqabala dan dari sinilah muncul istilah aljabar – penyelesaian. Dan juga menyebarkan Algoritma dari kata Al-Khawarizmi.

Dan dari sinilah bangsa-bangsa di belahan dunia lain akan mengikuti sistem bilangan arab yang baru. Bilangan yang terdiri atas sepuluh tanda. Dan akhirnya angka nol pun muncul dan selesailah perjalanan kita. Dan kita tetap belum tahu secara pasti apakah angka nol pertama muncul di India ataukah di Andalusia ataukah di Arab. Namun suatu hal yang pasti, ia baru muncul pada abad – minimal – VI atau bahkan lebih. Wallahu ‘alam.

Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Muhammad Ibnu Musa Al Khawarizmi inilah yang menemukan angka 0 (nol) yang hingga kini dipergunakan. Apa jadinya coba jika angka 0 (nol) tidak ditemukan coba? Selain itu, dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut melalui fungsi sinus dan tanget, persamaan linear dan kuadrat serta kalkulasi integrasi (kalkulus integral). Tabel ukur sudutnya (Tabel Sinus dan Tangent) adalah yang menjadi rujukan tabel ukur sudut saat ini.
Sumber : bacaan-mu.blogspot.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More